Terapi Medis dengan Urine

Terapi Medis dengan Urine

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz Dr. Setiawan Budi Utomo nan aku hormati. Belakangan ini semakin ‘ngetrend’ dan populer orang menggunakan urine (air kencing) manusia baik milik sendiri maupun orang lain nan diambil setelah bangun tidur pagi sebagai alternatif terapi pengobatan medis dengan cara meminumnya. Karena secara realitas banyak orang nan menceritakan pengalamannya nan ajaib tentang ‘cespleng’ nya terapi urine tersebut nan berkhasiat dan mujarab sehingga semakin banyak kalangan nan ingin mencobanya.

Bagaimanakah syariah Islam memandang masalah ini? Bolehkah kita menjadikan urine manusia tersebut sebagai campuran obat-obatan dan menjual-belikannya? Bagaimanakah hukumnya bila menggunakan urine binatang?

Demikian mohon jawabannya dan terimakasih, jazakumullah khairan.

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Sebelum menjawab hukum menggunakan urine (air seni) sebagai obat, perlu dijelaskan lebih dahulu mengenai kedudukan kudus maupun najisnya urine nan pada gilirannya akan menyangkut status halal dan haramnya urine.

Para ulama sepakat (ijma’) bahwa urine manusia demikian pula feces (tinja) nya ialah najis kecuali bayi nan hanya mengkonsumsi ASI (air susu ibu) sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ibnu Rusyd (Bidayah al-Mujtahid, I/103) berdasarkan hadits Nabi saw nan memerintahkan shahabat buat menyiram bekas air kecing orang Arab Badui di Masjid Nabawi (HR. Bukhari dan Muslim) dan hadits Nabi saw tentang dua orang nan disiksa di kubur nan salah satunya disebabkan oleh sebab tak bersuci dari bekas kencingnya (HR. Bukhari dan Muslim). Demikian pula perintah Nabi saw.: “Bersucilah kalian dari kecing” (Nailul Authar, I/43)

Dikarenakan air seni atau kencing manusia ialah barang najis dan bukan termasuk thayibat (barang nan baik) sebagaimana Allah firmankan dalam surat al-Baqarah:171 dan setiap nan najis ialah haram buat dikonsumsi baik benda padat maupun cair, maka secara prinsip mengkonsumsi urine atau kencing manusia hukumnya ialah haram. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, III/511, Syeikh Shalih Al-Fauzan, Al-Ath’imah, hal. 17, As-Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, I/19)

Adapun menggunakan urine tersebut dalam konteks kebutuhan medis seperti nan diangkat dalam wawancara sebuah tabloid nan terbit di Surabaya akhir Oktober 2000, Prof. Dr. dr. Iwan T, Budiarso memaparkan bahwa urine (air kencing) dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti koreng, diabetes, jantung, ginjal, kanker, AIDS dan impotensi. Bahkan menurut pengalamannya pribadi bahwa dulunya ia pernah loyo dan kejantanannya nyaris mati, namun kemudian menjadi greng lagi setelah minum air kencingnya. Ia juga menambahkan bahwa di luar negeri urine dijualbelikan dan pembelinya ialah perusahaan farmasi atau kosmetika raksasa.

Guru Besar Fak. Kedokteran Universitas Tarumanagara di Jakarta itu juga menyatakan bahwa obat batuk hitam nan biasa dikonsumsi orang memiliki kadar 10 persen kandungan urinenya. Kosmetik-kosmetik awet muda pun juga mengandung ekstraurine. Pernyataan ini tentunya mengundang kontroversi dan mendapatkan protes dan kritik diantaranya oleh kalangan pakar farmasi sendiri diantaranya apoteker Drs. Sunarto Prawirosujanto, APT. sebagaimana dimuat di Harian Media Indonesia, Senin 13 November 2000. Namun sayang Prof. Iwan belum menjelaskan obat batuk merek apa saja dan dibuat oleh pabrik nan mana nan mengandung urine.

Masalah penggunaan urine manusia sebagai terapi medis tersebut yakni pasien meminum air kecingnya sendiri atau orang lain baik dalam bentuk murni ataupun campuran dengan bahan lain dalam kemasan jamu ataupun obat sebenarnya sudah masuk dalam wilayah pembahasan masalah darurat ataupun pembuktian taraf kebutuhan nan tentunya membutuhkan kriteria, klasifikasi dan persyaratan nan lebih hati-hati serta restriksi jelas nan dimaksud kondisi darurat. (QS. Al-Baqarah:173, Al-An’am:119, Al-Maidah:3).

Dalam hal ini bisa kita katakan bahwa memang Islam sangat menganjurkan upaya pengobatan dan ikhtiar medis namun harus berusaha tak keluar dari prinsip halal sehingga tak menggampangkan dan gegabah menggunakan alternatif haram. Rasulullah saw pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat serta telah menciptakan buat kalian setiap penyakit obatnya, maka berobatlah kalian dan jangan berobat dengan nan haram.” (HR. Abu Dawud)

Oleh sebab itu ketika ada seorang nan bertanya kepada Nabi tentang memanfaatkan khamr, beliau melarangnya. Lalu ketika orang tersebut mendesak beliau dan mengatakan bagaimana jika memanfatkannya hanya buat obat? Beliau menegaskan kembali dengan bersabda: “Khamer itu bukan sebagai obat melainkan penyakit.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi) Hal ini juga didukung oleh fatwa Ibnu Mas’ud nan mengatakan: “Sesungguhnya Allah tak menciptakan kesembuhan kalian pada sesuatu nan Ia haramkan atas kalian.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Secara prinsip Islam juga mengharamkan buat berobat dengan segala sesuatu nan haram termasuk khamer dan air seni sebab pengharaman sesuatu menurut Imam Ibnul Qayyim (Zadul Ma’ad, III/115-116) menuntut umat Islam buat menjauhinya dengan segala cara, sedangkan pengambilan sesuatu nan haram sebagai obat konsekuensi dan efeknya ialah akan mendorong orang buat menyukai dan menjamahnya nan tentunya hal ini bertentangan dengan maksud dan tujuan Allah dalam menetapkan syariah-Nya.

Demikian pula menurut beliau, pembolehan berobat dengan nan haram apalagi jika selera cenderung kepadanya maka penggunaannya akan menjurus kepada hobi, kebiasaan, kecanduan dan menikmatinya khususnya bila merasakan kegunaan padanya bisa menyembuhkan penyakitnya. Oleh sebab itu Ibnul Qayyim penulis kitab Ath-Thibb An-Nabawi (Pengobatan ala Nabi) ini mengingatkan imbas psikologis nan ditimbulkan dari mengkonsumsi obat haram tersebut yaitu bahwa ketika seseorang meyakini sesuatu nan haram itu bermanfaat bisa menyembuhkan penyakitnya maka spontanitas ia akan tersugesti dengannya.

Namun demikian Islam ialah agama rahmat dan tak menginginkan umatnya celaka dan membiarkannya binasa dalam kondisi darurat sebab diantara tujuan syariah ialah hifdzun nafs (memelihara kelangsungan hayati dengan baik), maka dalam konteks ini terdapat kaedah rukhsah (dispensasi) nan memberikan kelonggaran dan keringanan bagi orang nan sakit gawat dengan ketentuan sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Yusuf al-Qardhawi yaitu:

  1. Benar-benar dalam kondisi gawat darurat bila seorang penderita penyakit tak mengkonsumsi sesuatu nan haram ini.
  2. Tidak ada obat alternatif nan halal sebagai pengganti obat nan haram ini.
  3. Menurut resep atau petunjuk dokter muslim nan kompeten dan memiliki integritas moral dan agama. Dan aku tambahkan nan keempat yaitu terbukti secara uji medis dan analisa ilmiah di samping pengalaman realitas nan membuktikan bahwa sesuatu nan haram tersebut benar-benar bisa menyembuhkan dan tak menumbulkan imbas nan membahayakan.

Meskipun demikian beliau menambahkan bahwa menurut pengalaman realitas dan laporan medis dari para dokter nan andal bahwa tak ada alasan dan kebutuhan medis nan memastikan sesuatu nan haram ini sebagai obat, akan tetapi beliau tetap mentolerir prinsip rukhsah ini buat mengantisipasi kondisi dimana seseorang muslim tak mendapatkan obat kecuali dengan mengkonsumsi sesuatu barang nan haram. (Al-Halal wal Haram fil Islam: 53)

Demikian pula halnya hukum menggunakan urine manusia sebagai campuran obat-obatan apalagi praktik jual beli produk barang tersebut para prinsipnya ialah haram sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya sesuatu nan diharamkan buat diminum diharamkan pula buat dijual belikan.” (HR.Al-Humaidi dalam Musnadnya) Hal ini bisa diqiyaskan (analog) dengan sabda Nabi saw tentang pengharaman khamer setelah turun ayat Al-Maidah:90-91: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamer maka barangsiapa nan menyaksikan ayat ini dan ia masih memilikinya maka janganlah ia meminum maupun menjualnya.” (HR.Muslim)

Adapun hukum mengkonsumsi urine binatang nan halal dimakan dagingnya sebagai obat seperti urine unta, kambing, sapi, unggas dan burung maka pendapat nan paling kuat ialah hal itu diperbolehkan dan halal sebab urine tersebut kudus dan tak najis, berbeda dengan urine binatang nan haram dimakan dagingnya maka hukumnya urinenya juga haram dan najis.

Dalil tentang kudus dan halalnya mengkonsumsi urine binatang nan halal dimakan dagingnya ialah bahwa Nabi saw membolehkan orang-orang Uraniyyin nan sedang tinggal di Madinah buat meminum air kecing unta dan susunya (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Demikian pula Nabi saw. membolehkan umat Islam buat melaksanakan shalat di kandang kambing nan menunjukkan sucinya kotoran dan kencing kambing (HR. Ahmad dan Tirmidzi) Dengan demikian sebab urine binatang nan halal dimakan dagingnya halal buat dikonsumsi maka halal pula menggunakan kotoran ataupun urinenya buat kebutuhan lainnya seperti pupuk, makanan binatang piaraan maupun diperjual belikan dan tetap dikategorokan sebagai thayibat sebab barang tersebut ialah kudus dan bukan najis.

Wallahu A’lam wa Billahit taufiq wal Hidayah

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy