Tidak Mudun ? Maka Tiada Syariat, Iman, Tauhid Padanya

Tidak Mudun ? Maka Tiada Syariat, Iman, Tauhid Padanya

Oleh : Dr. Ahmad Alim, M.A

Masalah nan fundamental nan sedang dihadapi umat sekarang ini ialah masalah ilmu dan adab. Ilmu sudah mulai dijauhkan, bahkan dihilangkan dari nilai-nilai adab dalam arti luas. Akibatnya, terjadilah suatu keadaan nan oleh Al-Attas disebut the loss of adab (hilangnya adab).

Efek jelek dari kenyataan ini ialah terjadinya kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, nan selanjutnya menciptakan ketiadaan adab dari masyarakat. Hasil akhirnya ialah ditandai dengan lahirnya para pemimpin nan bukan saja tak layak memimpin umat, melainkan juga tak memiliki akhlak nan luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mencukupi, sehingga itu semua akan membawa kerusakan di berbagai sektor kehidupan, baik kerusakan individu, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam Islam, ilmu dan adab ialah dua hal nan saling terintegrasi dan menguatkan satu sama lainnya. Keduanya ibarat sebuah koin nan tidak terpisahkan, di mana kebermaknaan nan satu tergantung pada nan lainnya. Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu ibarat orang nan berjalan tanpa petunjuk arah. Dengan demikian ilmu dan adab harus bersinergi, tak boleh dipisah-pisahkan. Berilmu tanpa adab ialah dimurkai (al-maghdhubi alaihim), sementara mudun tanpa ilmu ialah kesesatan (al-dhallin).

Hasyim Asy’ari dalam karyanya “Adab Al-Alim Wa Al-Muta’allim” merumuskan kaidah krusial akan urgensinya ilmu dan adab. Kaidah tersebut berbunyi,

At-tawhidu yujibul imana, faman la imana lahu la tawhida lahu; wal-imanu yujibu al-syari’ata, faman la syari’ata lahu, la imana lahu wa la tawhida lahu; wa al-syari’atu yujibu al-adaba, faman la adaba lahu, la syari’ata lahu wa la imana lahu wa la tawhida lahu.

Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tak beriman, maka dia tak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa nan tak ada syariat padanya, maka dia tak memiliki iman dan tak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa nan tak mudun maka (pada hakikatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.

Pentingnya ilmu dan adab dalam tradisi intelektual Islam telah mendorong perhatian para ulama salaf buat melahirkan sebuah karya abadi tentang konsep ilmu dan adab dengan kajian nan mendalam dan komprehensip. Berikut merupakan contoh-contohnya.

  1. Imam Al-Bukhari (194-256) menulis tentang Adab Al-Mufrad,
  2. Ibn Sahnun (202-256H) menulis Risalah Adab Al-Mua’llimin,
  3. Al-Mawardi (w.450 H) menulis tentang Adab Al-Dunya Wa Al-Din dan Adab Al-Wazir,
  4. Al-Khatib Al-Baghdadi (w.463H) menulis tentang Al-Faqih Wa Al-Mutafaqih,
  5. Al-Ghazali (450-505 H) menulis Kitab Al-Ilm, Fatihah Al-Ulum dalam Ihya Ulum Al-Din,
  6. Nashir Al-Din Al-Thusi (597-672 H) menulis Kitab Adab Al-Muta’allimin,
  7. Al-Zarnuji (penghujung abad ke-6 H) telah menulis Ta’lim Al-Muta’allim,
  8. Muhyiddin Al-Nawawi (w.676) menulis tentang Adab Al-Daris Wa Al-Mudarris,
  9. Ibn Jama’ah (w.733 H) menulis Tadzkirah Al-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fii Adab Al-A’lim Wa Al-Muta’allim,
  10. Ibn Hajar Al-Haysami (w.974 H) menulis Tahrir Al-Maqal Fii Adab Wa Ahkam Wa Fawa’id Yahtaj Ilaiha Mua’ddib Al-Athfal,
  11. Al-Syaukani (1173-1250 H) menulis Adab Al-Thalab, dan masih banyak lagi.

Dari kajian para ulama tersebut, bisa disimpulkan bahwa adab memiliki peran sentral dalam global pendidikan. Tanpa adab global pendidikan berjalan tanpa ruh dan makna. Lebih dari itu, salah satu penyebab primer hilangnya keberkahan dalam global pendidikan ialah kurangnya perhatian civitas akademikanya dalam masalah adab. Az-Zarnuji mengatakan,

“Banyak dari para pencari ilmu nan sebenarnya mereka sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tak merasakan nikmatnya ilmu, hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memperhatikan adab dalam menuntut ilmu”.

Dengan demikian, sudah saatnya global pendidikan menekankan proses Ta’dib ini. Sebuah proses pendidikan nan mengarahkan para peserta didiknya menjadi orang-orang nan berilmu, sekaligus beradab. []


Pengasuh PPMS Ulil Albaab, Sekretaris Pusat Kajian Islam (Puski) UIKA Bogor

Donasi Pengkaderan Ulama dan Cendekia, bisa disampaikan melalui Rekening BRI SYARIAH Jl Jajajaran Bogor atas nama Ibdalsyah QQ Cendekiawan Muslim No Rek. 100 436 8246

 

Peradaban

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy