Tiga Mengemis Yang Dibolehkan

Tiga Mengemis Yang Dibolehkan

Jamaah sidang jumat Rahimakumullah.

Setiap orang niscaya membutuhkan rizki berupa makanan, minuman, pakaian, loka tinggal, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan hayati lainnya. Untuk itu, manusia harus mencari nafkah dengan berbagai usaha nan halal. Bagi seorang muslim, mencari rizki secara halal ialah salah satu prinsip hayati nan sangat mendasar. Kita tentu menghendaki dalam upaya mencari rizki, banyak nan dapat kita peroleh, mudah mendapatkannya dan halal status hukumnya.

Namun seandainya sedikit nan kita bisa dan susah pula mendapatkannya, selama status hukumnya halal jauh lebih baik daripada mudah mendapatkannya, banyak perolehannya namun status hukumnya tak halal. Yang lebih tragis lagi ialah bila seseorang mencari dengan susah payah, sedikit mendapatkannya, staus hukumnya juga tak halal, bahkan resikonya sangat berat, inilah sekarang nan banyak terjadi. Kita dapati di masyarakat kita ada orang nan mencuri sandal atau sepatu di mesjid, mencopet di bus kota dan sebagainya. Korban penganiayaan dari masyarakat sudah banyak nan berjatuhan dampak pencurian semacam itu.

Dalam satu hadist, Rasulullah saw menyebutkan tentang kecintaan Allah swt kepada orang nan mencari rizki secara halal meskipun ia berusaha payah dalam mendapatkannya, beliau bersabda: Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambaNya lelah dalam mencari nan halal (HR. Ad Dailami).

Salah satu cara mencari harta nan tak terhormat ialah dengan meminta-minta atau mengemis kepada orang lain. Karena itu, sebagai muslim jangan sampai meminta atau mengemis agar kita mendapat agunan surga dari Rasulullah saw sebagaimana sabdanya : Barangsiapa nan menjadi kepadaku bahwa ia tak meminta sesuatu kepada orang, saya menjamin untuknya dengan surga (HR. Abu Daud dan Hakim

Kaum Muslimin nan berbahagia

Pada dasarnya, mengemis termasuk cara mencari harta nan diharamkan oleh Allah swt, kerena itu, mengemis tak boleh dilakukan oleh seorang muslim kecuali bila sangat terpaksa, Rasullullah saw bersabda : Qabishah bin Mukhariq al Hilal ra berkata: “aku pernah memikul tanggunguan berat (diluar kemampuan), lalu saya datang kepada Rasulullah saw buat mengadukan hal itu. Kemudian beliau bersabda: “tunggulah sampai ada sedekah nan datang kepada kami lalu kami perintahkan agar sedekah itu diberikan kepadamu”. Setelah itu beliau bersabda: Hai qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tak boleh kecuali bagi salah satu dari tiga golongan, yaitu (1) orang nan memikul beban tanggungan nan berat (diluar kemampuannya), maka dia boleh meminta-minta sehingga setelah cukup lalu berhenti, tak meminta-minta lagi. (2)Orang nan tertimpa musibah nan menghabiskan hartanya, maka dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekedar kebutuhan hidupnya. (3) Orang nan tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang nan sehat pikirannya dari kaumnya menganggapnya benar-benar miskin, maka dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekedar kebutuhan hidupnya. Sedangkan selain dari tiga golongan tersebut hai Qabishah, maka meminta-minta itu haram nan hasilnya bila dimakan juga haram (HR. Muslim).

Dari hadist di atas, bisa kita pahami bahwa mengemis nan dibolehkan ialah mengemis nan sekedar buat memenuhi kebutuhan pokok dalam kehidupan seseorang, itupun tidsk boleh menjadi pekerjaaan atau profesi, sebab situasi darurat seharusnya tak berlangsung lama. Lebih jelas ada tiga karena atau keadaan nan dibolehkannya mengemis bagi seseorang.

Pertama, orang nan memiliki beban hayati nan tak mampu ditanggungnya sehingga dengan kesungguhan dan kerja keras tanpa ia bisa berusaha dengan cara lain nan halal buat dapat memenuhi kebutuhannya. Dalam kehidupan sekarang, para pengemis dapat jadi berada dalam keadaan memiliki tanggungan nan berat, namun sebab dari mengemis ternyata banyak nan diperolehnya meskipun tanpa kerja keras, maka ia malah keasyikan sehingga tak mau berusaha nan lain.

Padahal seandainya seorang ibu nan kita lihat di jalan-jalan buat mengemis mau jadi pembantu rumah tangga aja; makan, minum dan loka tinggal sudah terjamin, itupun masih mendapat upah setiap bulan. Kalau para partikelir nan suka memalak mau berusaha dengan cara berdagang minuman ringan dan makanan kecil saja, maka ia sudah dapat memperoleh uang, kalau orang stigma diberikan pendidikan ketrampilan nan membuatnya dapat berusaha dan berkarya, tentu ia tak akan menunggu belas kasihan orang lain.

Oleh sebab itu, setiap orang seharusnya dapat memahami dan menyadari bahwa semakin lama beban hayati memang semakin besar sehingga seseorang dituntut buat meningkatkan semangat bekerja dan berusaha, termasuk di dalamnya dengan memperbanyak ketrampilan sebab semakin banyak ketrampilan nan dikuasainya, semakin banyak pula pintu rizki nan dapat dibuka.

Kedua nan dibolehkan mengemis ialah orang nan tertimpa musibah seperti bala alam nan menghabiskan hartanya, bahkan buat sementara iapun tak dapat berusaha sebagaimana biasanya. Di Negara kita, bala datang silih berganti bahkan ada bala nan sudah diperkirakan seperti banjir, tanah longsor, berbagai penyakit nan muncul dampak perubahan musim dan sebagainya. Kalau pemerintah tanggap dalam masalah ini, apalagi dibantu forum swadaya masyarakat. Mestinya orang tertimpa musibah tak akan sampai mengemis, aturan Negara dan pemerintah daerah harus disediakan dalam jumlah nan banyak buat menghadapi situasi darurat dampak bala alam.

Karena itu, masyarakat nan tertimpa musibah memang harus menunjukkan kesabaran nan besar sebab hal itu memang ujian dari Allah swt sebagaimana firman-Nya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah warta gembira kepada orang-orang nan sabar. (QS. Al Baqarah [2]:115)

Ketiga, kemiskinan nan diakui oleh masyarakat disekitarnya bahwa dia memang miskin sehingga buat memenuhi kebutuhan pokok saja seperti makan dan minum ia tak sanggup lagi memenuhinya. Bila tak ada pilihan lain, maka orang nan ditimpa kemiskinan dibolehkan mengemis sekedar buat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya.

Namun kemiskinan idealnya tak sampai membuat seseorang menjadi pengemis, tapi orang berkemampuan apalagi pemerintah harus segera membantu masyarakat nan miskin dengan mendidik masyarakat dan membuka lapangan kerja nan luas. Ketika ada orang nan mengalami kesulitan, seharusnya orang itu tak sampai mengemis, tapi tetangga wajib mengatasi kesulitannya itu.

Karenanya seseorang dianggap tak beriman bila ia tahu tetangganya lapar tapi ia tak menolongnya, Rasullullah saw bersabda: Tidak beriman kepadaku orang nan bisa tidur dengan perut kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui (HR. Bazzar).

Disamping itu, ketika seseorang mau berusaha lalu membutuhkan modal, maka permodalan dapat diberikan atau dipinjamkan dari dana zakat, infak dan sedekah atau memang dana nan disediakan oleh pemerintah sehingga seseorang dapat berusaha dengan cara nan baik dan tak lagi menjadi pengemis.

Dengan demikian dalam situasi terpakasa, seseorang dibolehkan mengemis hanya buat mendapatkan rizki sekedar dapat memenuhi kebutuhan pokok, bukan dengan pengemis itu ia menjadi kaya apalagi sampai menipu orang lain agar ada belas kasihan kepadanya. Orang nan selama ini menjadi pengemis harus meninggalkan cara mengemis dan secara serius pemerintah dan lembaga-lembaga zakat serta pengurus masjid harus memberi perhatian dalam masalah ini.

Oleh Karena itu, motivasi dan memberi pemahaman nan utuh buat membantu nan lemah harus dibangun kembali, sedangkan mereka nan mengalami kesulitan hayati harus mau berusaha semaksimal mungkin dan tak menjadikan keadaan dirinya sebagai alasan keterpaksaan buat mendapatkan rizki dengan cara nan tak terhormat.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy