What Is Islam? (3)

What Is Islam? (3)

Ketika dalam salah satu fase excursion kami di pegunungan salju Alpen bagian Jerman, di dekat Muenchen, para peserta excursion menginap di sebuah Mountain Hut, layaknya pondok di pegunungan. Pengelolanya ialah orang nan amat ramah. Mereka bertiga, sang suami, istri, dan seorang gadis kecil mereka nan lucu. Saya lupa nama ketiganya. Mereka menjaga pondok mereka itu hanya ketika musim panas di mana banyak pendaki gunung nan mampir ke pondok mereka buat bermalam.

Ya, pegunungan Alpen tetap bersalju walau musim panas, dan ketika musim panas, di mana matahari begitu cerah, mendaki menjadi kenikmatan tersendiri, seolah-olah menjadi penyeimbang suasana dingin dari salju loka pijakan kaki kami. Waktu itu kami sedang berkumpul di ruang makan menunggu sarapan. Saya dan Jutta duduk berhadapan di meja panjang nan diisi teman-teman kami nan lain. Ketika nan lain ada nan bermain kartu dan mengobrol seru sambil ketawa-ketawa, maka aku nan saat itu melihat Jutta diam sendiri tak ada nan mengajak ngobrol memulai obrolan.

Saya bertanya padanya, “Apa sebenarnya nan mendasari seseorang itu memilih sebagai vegetarian?” Dia menjawab bahwa tiap vegetarian punya alasan berbeda-beda, tetapi kebanyakan sebab mereka menganggap makan daging itu tak sehat bagi kesehatan tubuh, dan makan sayuran lah nan lebih sehat. Maka aku pun melanjutkan, “Kalau kamu, apa alasan kamu menjadi vegetarian?” Ia menjawab bahwa baginya, manusia pada dasarnya ialah hewan juga. Jadi ketika manusia itu membunuh hewan buat memakannya, maka itu berarti mereka menyakiti hewan tersebut dan memakan bahagian dari diri mereka sendiri.

Saya katakan padanya bahwa kita tak akan membahas manusia itu ialah hewan atau tidak, sebab itu isu lain. Saya waktu itu hanya tak ingin membahas Teori Darwin nan saat ini begitu diagung-agungkan semata-mata hanya semakin menunjukkan betapa jelasnya manusia itu membutuhkan Tuhan. Bukankah denial nan amat keras terhadap sesuatu itu hanya menunjukkan kebenaran atas sesuatu nan dibantah. Ya, begitulah bila manusia berusaha membantah nuraninya, berusaha membantah fitrahnya. Manusia itu sebenarnya sadar akan keberadaan Tuhan.

Hanya mereka tak hendak mengenali Tuhan sebab tak hendak mengambil konsekuensi sebagai seorang pengenal Tuhan. Jadi mereka mencari pelarian buat melarutkan diri dalam segala hal nan membuat mereka tak perlu mengingat-ingat keberadaan Tuhan. Sepanjang mereka berada dalam kondisi nan terlupa pada Tuhan maka mereka nyaman dengannya, sebab tak perlu melakukan kewajiban apapun sebagai makhluk Tuhan.

Saya kemudian mengatakan pada Jutta, “Memakan hewan dengan menyembelihnya dan kemudian merasa bahwa hewan itu menderita kan ialah persepsi kita, manusia. Belum tentu hewan tersebut merasa menderita.” Saya katakan bahkan dapat saja hewan tersebut rela disembelih buat dimakan sebab tahu mereka dikorbankan buat kebaikan manusia.

Saya bilang bahwa hewan itu makhluk Tuhan dan diciptakan buat kebaikan manusia. “Dalam Islam sendiri, kami punya anggaran dalam menyembelih hewan, yaitu langsung pada urat nan membuat hewan itu mengalami fase paling singkat kepada kematiannya. Jadi kami tak hendak menyiksa hewan, bahkan kami tak boleh memakan hewan nan terbunuh, misalnya dipanah, atau jatuh dari ketinggian. Bahkan kami menyembelih dengan menyebut nama Tuhan terlebih dahulu sebagai arti bahwa tidaklah kami melakukannya melainkan semata mengharapkan kebaikan dari-Nya.”

Jutta nan terdiam sebentar kemudian hanya menjawab singkat, “Ya, itu kan ditinjau dari segi agama.” Saya nan kurang puas dengan tanggapannya hanya dapat menerima bahwa mungkin memang itulah pemahamannya saat ini, tetapi aku konfiden bahwa diamnya Jutta ialah berpikir nan berkepanjangan.

Kisah

advertisements

Abu Haidar 2018 - Contact - Privacy Policy