Wudhu Tanpa Melepas Sepatu

Wudhu Tanpa Melepas Sepatu

Assalamu’alaikum Wr. Wb. pak Ustad

Saya ingin bertanya tentang hukum wudhu tanpa melepas sepatu (tanpa membasahkan kaki).

Saya sekarang sedang menempuh study di Jerman. Dan sering kali kami susah mendapatkan tempat-tempat ibadah (musholla). Sehingga kami berwudhu di wc. Nah.masalahnya kalau musim dingin air dari keran sangat dingin dan udara pun cukup dingin dan jg wc dsini disarankan buat selalu kering..sehingga agak enggan rasanya buat melepas sepatu kemudian membasahkan seperti wudhu biasanya.karena sebelumnya aku telah membaca jg artikelyangsejenis.dsitu dikatakan membasuh sepatu hanya bisa dilakukan selama maksimal 3 hari..

Yang ingin aku tanyakan, bolehkah hal ini dilakukan buat lebih dari 3 hari, mengingat musim dingin sendiri lamanya sekitar 3 bulan?

Terima kasih atas jawabannya.

Wassalam

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara singkat jawabnya boleh, sebab nan dimaksud dengan maksimal hanya 3 hari ialah dalam satu periode. Selesai satu periode, tentu boleh diperpanjang atau diperbaharui buat 3 hari ke depan, dan begitu seterusnya hingga selesainya musim dingin, atau dirasa sudah tak perlu lagi.

Jadi nan dimaksud dengan maksimal 3 hari bukan hanya 3 hari itu saja, tapi tiga hari sekali sepatu harus dilepas buat dilakukan wudhu’ nan paripurna dengan mencuci kaki, lalu dipakai lagi dan berlaku buat 3 hari ke depan.

Tapi masa 3 hari ini hanya berlaku buat mereka nan dalama perjalanan, sedangkan orang nan menetap di suatu loka buat masa waktu nan lama, masa berlakunya hanya 1 hari 1 malam atau 24 jam. Tapi tetap dapat diperbaharui.

Berwudhu di Musim Dingin

Berwudhu di musim dingin memang sebuah problem tersendiri. Terutama sebab harus membasuh kaki. Apalagi bila tak ada air hangat, maka lengkaplah sudah penderitaan.

Tapi di dalam agama ini ada solusi dan keringanan, yaitu dibolehkan berwudhu tanpa harus mencuci kaki, atau lebih tepatnya tanpa membuka sepatu. Jadi nan perlu dilakukan hanya membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, membasuh sebagian kepala dan mengusap sepatu pada bagian depan dan atasnya, tida perlu membukanya apalagi mencuci kakinya.

Syarat-syarat

Namun agar keringanan ini boleh dijalankan, ada beberapa persyaratan nan harus dipenuhi.

1. Sepatu Anti Air

Sepatu nan dipakai bukan sepatu sembarangan, tapi sepatu nan anti air. Maksudnya, bila tersiram air, air itu tak akan merembes masuk. Berarti bahannya bukan dari kain nan dapat merembes air.

2. Menutupi Sampai Mata Kaki

Sepatu itu harus tertutup membungkus seluruh kaki hingga mata kaki. Bila mata kaki tak tertutup, atau hanya tertutup dengan kaos kaki tembus air, maka syaratnya belum cukup.

Sepatu itu juga tak boleh bolong atau sobek sehingga dapat membuat air dapat masuk.

3. Tetap Dipakai

Sepatu itu tak boleh dibuka, harus terus menerus dipakai. Maka selama sepatu itu masih dipakai, selama itu pula kita boleh berwudhu tanpa membuka sepatu dan tanpa mencuci kaki.

Kalau sekali waktu sepatu itu dilepas, maka kebolehan tak mencuci kaki jadi ‘batal’. Maka seseorang harus berwudhu’ secara lengkap dulu dengan mencuci kakinya, kemudian memakai sepatu itu lagi.

4. Batas Waktu

Yang dimaksud batas waktu ialah masa expired buat satu periode. Seseorang sedang dalam perjalanan ke luar kota, boleh tak membuka sepatunya selama tiga hari tiga malam. Dan setelah itu dapat diperpanjang lagi 3 hari, dan boleh terus menerus diperpanjanng lagi. Pokoknya, batasnya ialah 3 hari sekali harus dicopot dan sekali saja buat berwudhu’ dengan mencuci kaki lengkap.

Sedangkan orang nan tak bepergian, kita sebut muqim, masa expired-nya satu hari satu malam. Setelah itu, tentu saja dapat di-re-new. Dapat diperpanjang per 24 jam sekali.

Ini berarti buat tiap 24 jam sekali, kita harus melepas sepatu itu, lalu kita berwudhu dengan lengkap mencuci kaki, lalu sepatu dikenakan kembali buat tenggang waktu 24 jam ke depan.

Asalkan selama 24 jam sepatu itu tak dilepas, maka kalau kita wudhu’, kita tak perlu mencuci kaki, cukup diusapkan saja mulai dari bagian depan terus naik ke atas sepatu ke arah belakang. Bukan bagian bawah sepatu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thaharah

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy