Yakin Akan Agunan Allah

Yakin Akan Agunan Allah

Seorang teman mengeluhkan kebingungannya antara terus atau berhenti bekerja. Pasalnya, ia bekerja di sebuah restaurant nan menjual makanan olahan daging babi dan juga minuman keras. Setelah aktif mengikuti kajian-kajian keagamaan dan rutin mengikuti ta’lim bulanan, ia mulai sadar akan pentingnya mendapatkan rezeki nan halal dan thoyib. Tetapi ia bingung, sebab ia menjadi tulang punggung keluarga.

Sang teman merasa tak nyaman dengan hasil nan ia bisa dari pekerjaan nan digelutinya. Tapi berhenti bekerja dalam kondisi saat ini merupakan pilihan nan sulit menurutnya, mengingat mencari kerja sungguh bukan perkara mudah, apalagi ia hanya lulusan SMA.

“Gimana dong Um, kalau saya berhenti bekerja, siapa nan mau kasih makan ibuku?” tanyanya.

“Allah.” Jawabku

“Ya udah niscaya Allah, siapa-siapa juga nan ngasih makan Allah.”jawabnya sedikit sewot.

Setiap muslim umumnya mengetahui dan menyadari bahwa nan memberi rezeki kepada setiap makhluk ialah Allah. Yang kurang ialah keyakinan akan adanya agunan rezeki dari Allah. Kepada sang teman, akupun tak ingin menasehatinya macam-macam, saya hanya berbagi pengalaman hayati dengannya. Bahwa ujian nan dialaminya juga dialami orang lain, termasuk saya dan suamiku.

Dahulu, belasan tahun nan lalu. Setelah selesai kuliah, mulailah saya melamar kerja. Pada waktu itu, wanita nan berjilbab dan mengenakan busana muslimah belum menjamur seperti sekarang. SK tentang jilbabpun belum turun. Ada 2 buah lamaran nan saya buat. Salah satunya lamaran ke sebuah bank. Aku terpanggil buat mengikuti test. Ternyata saya lolos test, kemudian diinterview. Dari interview saya diberitahukan bahwa ketika bekerja tak diperkenankan memakai jilbab. Dengan syarat tersebut saya memilih mundur.

Pada waktu itu, banyak pihak nan menyesalkan keputusanku. Menurut mereka, saya tak usah terlalu fanatik, bongkar pasangkan tak masalah. Aku sendiri berfikir, jika kita bersungguh-sungguh menolong agama Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh menolong kita. Dan Allah bukanlah Tuhan nan suka mengecewakan hambaNya. Berangkat dengan keyakinan tersebut dan berpretensi baik kepada Allah, saya mantap dengan keputusanku.

Ternyata, lamaranku nan kedua, ke sebuah perusahaan properti juga diterima. Belajar dari pengalaman sebelumnya, maka ketika saya di wawancara, sebelum ditanya macam-macam, akupun memberanikan diri buat bertanya.
“Sebelumnya aku minta maaf, aku ingin bertanya, jika aku diterima diperusahaan ini, apakah aku boleh tetap memakai hijab selama bekerja?” tanyaku
“Boleh-boleh saja, tak masalah.” Jawab Bp.H nan pada waktu itu mewawancarai aku.
Alhamdulillah, ternyata saya di terima bekerja di perusahaan itu.

Suamipun mengalami ujian masalah rezeki. 3 bulan sebelum pernikahan kami, kontrak kerja suami (calon suami pada waktu itu) tak diperpanjang. Padahal issue nan beredar ia akan diangkat sebagai pegawai tetap. Baik saya maupun suami tak “heboh” menyikapi hal tersebut. Yang heboh justru orang lain. Bayangkanlah, hendak menikah, tetapi jadi pengangguran.

Suami tak khawatir, sebab ia yakin, sekiranya sudah jatuh kewajibannya buat menafkahi keluarga, maka Allah akan memberinya kemampuan buat melaksanakan kewajibannya. Aku sendiri, biasa saja mendengar warta tersebut. Karena yakin, sesungguhnya Allah tak akan menyia-nyiakan keyakinan suamiku. Alhamdulillah, sebulan setelah menikah, suami kembali bekerja dan dalam jangka 1 bulan langsung diangkat sebagai pegawai tetap. Ini ialah bukti atas keyakinan nan utuh atas agunan Allah. Dan berpretensi baiknya bahwa Allah akan memberi ganti pada saat nan tepat, benar-benar menjadi kenyataan.

Rasa gelisah akan rezeki hari esok, bukan tentang sulitnya mencari pekerjaan. Bukan tentang kita hanya lulusan SMA, atau kita tak memiliki pengalaman kerja. Inti persoalannya terletak pada masalah keyakinan dan berpretensi baik kita kepada Allah.

Tidak optimis perihal rezeki sesungguhnya sebab kita tak memiliki keyakinan. Sikap inilah nan kemudian membuat kita khawatir, kekhawatiran nan pada akhirnya membuat kita tak lagi aware terhadap halal atau haramnya penghasilan kita. Padahal, empat bulan dalam kandungan, setiap insan telah Allah tetapkan bagian rezekinya masing-masing. Padahal, Allah menjamin bahwa tak satupun bintang nan melata, kecuali telah Allah tetapkan rezekinya. Artinya, bagian rezeki buat kita niscaya ada dan niscaya sampai.

Selain yakin, bahwa Allah menjamin rezeki bagi setiap makhlukNya, hal lain nan juga sangat krusial ialah Husnuzhan atau berpretensi baik kepada Allah. Karena Allah senantiasa menurut berpretensi hamba-hambaNya. Jika kita berprasangka, bahwa Allah akan memberi kita rezeki dan mencukupi kebutuhan kita, Insya Allah rezeki akan sampai kepada kita dan Allah akan penuhi kebutuhan kita. Yang perlu menjadi catatan adalah, rasa konfiden di sini tentu saja rasa konfiden nan disertai tindakan aktif. Maksudnya adalah, ibadah hati dengan rasa konfiden , dan anggota badan melakukan ikhtiar maksimal.

Karenanya, ketika seorang hamba memilih buat mengambil nan haram, setidaknya ada dua hal nan mendasari. Yang pertama ialah sebab su’uzhzhan atau jelek sangka kepada Allah. Ia menganggap Allah tak akan menganugerahinya rezeki nan baik dan halal. Yang kedua ialah ketidakmampuan buat bersabar atas ujian Allah.

Prasangka baik dan juga keyakinan, tak bisa tumbuh, jika interaksi kita dengan Allah tak baik. Jadi kunci buat bisa konfiden dan senantiasa berprasangka baik terletak pada interaksi nan baik dengan Allah. Makin baik interaksi kita dengan Allah, makin yakinlah kita terhadapNya. Wallahua’lam.

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy