Yakin Allah Niscaya Melihatnya

Yakin Allah Niscaya Melihatnya

Berkali-kali ucapan bodoh mengarah kepada saya. Sesekali ada umpatan di situ. Saya tidak menggubris atau berusaha mengelak. Diam saja.

Mereka ialah teman-teman saya. Saat itu, kami berkumpul bersama di kantin. Di sela-sela itu, aku bercerita telah menemukan sebuah tas kecil pagi sebelumnya. Saya menemukannya di pelataran parkir mobil dekat kantor.

Semula, aku berpikir buat melaporkannya ke petugas parkir. Namun, saat itu suasana sedang ramai di halaman depan gedung. Sebab, ada kegiatan pelatihan memadamkan kebakaran. Pesertanya ialah petugas sekuriti, office boy, termasuk petugas parkir. Pantas jika saat itu aku tidak menjumpai seorang petugas pun di dekat area parkir mobil.

Saya bawa saja tas hitam tersebut ke kantor. Kemudian aku beranikan diri buat membuka dan mencari tahu kartu bukti diri si pemilik. Tas itu berisi dompet, alat rias, dan kosmetika. Di dalam dompet, aku menemukan apa nan aku cari, yaitu kartu bukti diri si pemilik. Seorang perempuan keturunan Tionghoa. Terdapat beberapa kartu kredit di sana serta lembaran uang senilai total Rp 2,3 juta.

Setelah mengetahui alamat si pemilik, aku berusaha menghubunginya lewat telepon. Si pemiliknya nan menerima langsung. Dengan suara ramah, dia menanyakan keperluan dan nama saya. Saya lalu menjelaskan inovasi tas dan dompet itu. Di seberang suaranya tampak gembira. ’Ibu dapat mengambil di kantor saya,” ujar saya.

Begitu bertemu, dia mengambil tasnya dan bermaksud memberi aku uang terima kasih. Saya menolaknya. Dia memaksa dan aku tetap menolaknya. Namun, sebab terus dipaksa, aku akhirnya menerimanya. Nominalnya cukup lumayan buat ukuran karyawan rendahan seperti saya. Uang itu akhirnya aku masukkan ke kotak amal di musala kantor.

Selesai bercerita tentang kejadian tersebut, teman-teman masih mencibir tindakan saya. Mereka menyayangkan sikap aku nan membuang peluang ”emas” itu. Ya, aku dapat saja mengambil barang berharga di dalam tas itu, lalu ngeloyor pergi dan meninggalkannya. Apalagi, si pemilik ialah warga keturunan dan tak seiman.

Selain konfiden bahwa Allah melihat kejadian pagi itu, aku berusaha memosisikan diri sebagai perempuan Tionghoa tersebut. Entah bagaimana perasaan aku jika kehilangan surat-surat berharga atau catatan utang. Apalagi, utang sampai wafat pun tetap akan dicatat oleh-Nya.

”Maka nikmat Tuhanmu nan mana nan kau dustakan?” (QS Ar Rahman)

Graha Pena, 13 Oktober 2010

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy