Yang Harus Dilakukan Sebagai Anak

Yang Harus Dilakukan Sebagai Anak

Assalamualaikum

Saya pria 28 tahun dan Alhamdulillah sudah berkeluarga selama 5 tahun, ada suatu kondisi nan bagi aku merasa butuh bimbingan buat dapat berbakti kepada orang tua.

Yang pertama mengenai kondisi mertua saya, aku memaklumi bahwa cara pandang mertua aku nan mungkin maaf dapat dikatakan kolot. Dulu sebelum kami menikah, mereka ialah sosok orang tua nan mengajarkan anak-anaknya itu belajar iklhas dan prihatin serta mendidik anak-anaknya menjadi seorang muslimin dan muslimah. Namun sekarang ini kondisi sudah berubah, dapat dikatakan kami sebagai anak tujuannya ingin mengangkat derajat orang tua, tetapi setelah sekian lamanya ternyata justru membuat mereka dalam kondisi takabur, arogan sebab merasa anak-anaknya sudah memberikan materi dan kiriman nan akhirnya malas-malasan dan sporadis shalat. Padahal dilihat dari usianya nan masih muda seharusnya masih dapat bekerja dan bertawakal serta menegakan shalat. Sampai adik bungsu ipar aku itu tak di didik seperti kakak-kakaknya, nan akhirnya menjadi tak kontrol dan putus sekolah. Namun hal ini tak ada teguran dari mertua saya, justru sebaliknya kami nan tak disukai oleh mereka. Sebagai anak, apa nan harus kami lakukan? Apakah kami stop memberikan materi dan kiriman atau bagaimana? Kami takut tindakan kami justru membuat berdosa dan tak berbakti terhadap orang tua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,
Saudara Ady nan dimuliakan Allah,
Mertua itu ibarat orang tua kandung. Berbakti kepada mereka, ibarat berbakti juga ke orang tua sendiri. Apalagi Anda sudah ditolong oleh mereka. Mereka mendidik istri Anda sejak dalam kandungan dan dengan penuh ikhlas merawatnya. Setelah besar Anda menikahinya. Dapat Anda bayangkan, bila Anda nan melakukannya tentu tak mungkin kan ya? Itu sebabnya Nabi mewasiatkan berbakti kepada orang tua ialah kebaikan dengan pahala besar dan mendurhakainya ialah dosa besar nan tidak layak dilakukan oleh para mukmin.
Maka perbesarlah pahala Anda dengan mengikhlaskan apa nan sudah Anda berikan untuknya serta tak mengungkit-ungkitnya lagi. Bila pun ia masih muda dan sanggup berusaha, lalu Anda tetap menyedekahkan apa nan Anda punya untuknya, tentu tidak ada salahnya.
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Ada seseorang yang
berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai
beberapa saudara, dan aku menghubungkan tali
kekeluargaan dengan mereka, tetapi mereka
memutuskannya. Saya berbuat baik kepada mereka tetapi
mereka berbuat dursila kepada saya. Saya senantiasa berbuat
ramah kepada mereka, tetapi mereka tak tahu diri.” Beliau
bersabda : “Seandainya sahih seperti apa nan kamu
katakan, maka seakan-akan kamu menyuapkan abu panas
kepada mereka. Dan Allah senantiasa memberi pertolongan,
karena perbuatan mereka jika kamu tetap berbuat demikian.”
(H.R Muslim)
Dari Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra. ia berkata: “Saya
bertanya kepada Nabi SAW: “Amal apakah nan paling disukai
oleh Allah Ta’ala?” Beliau menjawab : “Salat pada waktunya.”
Saya bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab :
“Berbuat baik kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi :
“Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berjihad (berjuang) di
Jalan Allah.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Meski perlu dipikirkan cara lain buat menyadarkannya bila cerita Anda benar, bila ternyata ada kesombongan sebab anaknya sudah mapan dan berhasil, bahwa arogan itu pekerjaan setan dan tidak layak dimiliki oleh orang beriman.
Mungkin Anda perlu mengevaluasi diri apa nan membuat Anda “dibenci’ olehnya? Misalnya, apakah saat Anda menyerahkan sedekah kepada mereka, Anda telah khilaf sehingga mengatakan suatu perkataan nan menyakiti hatinya? Adakah Anda menunjukkan kegusaran sehingga menyuruhnya buat tidak tergantung dengan uang kiriman dari anak-anaknya? Sdr Ady, dapat jadi perkataan semacam itu akan dapat membuatnya menjadi antipatif atas sikap dan tindakan anda. Minta maaflah dengan kerendahan hati agar komunikasi antar Anda dan mereka lancar dan tidak ada hambatan. Komunikasi nan baik akan sangat menentukan kebaikan Anda dan membantu Anda buat melancarkan pengaruh nan baik kepada mertua anda. Anda akan didengar bila mereka tidak merasa ada hambatan komunikasi ketika bercakap dengan anda.
Sdr Adi, meski begitu, tetap berbuatlah baik kepada mereka. Pikirkanlah kebaikan apa nan dapat Anda lakukan buat menghargai jasa-jasanya. Kalau memungkinkan, ajaklah saudara –saudara nan lain buat bermusyawarah dan melakukan kebaikan bersama agar masalah si bungsu ini menemukan jalan keluar.
Bila ternyata apa nan dilakukan oleh mertua Anda sebab keinginannya buat mendapat perhatian dari anak-anaknya, tak semata-mata perhatian berupa kiriman uang, tapi perhatian secara psikologis, bisa berupa telpon, hadiah, pujian, maka Anda perlu menyediakan waktu buat memperhatikan keduanya. Lakukan hal meskipun sederhana, misalnya memuji masakannya, memuji tanaman nan dirawatnya atau perkara-perkara nan menimbulkan rasa bahagia di hatinya. Nah Saudara Ady, apapun balasan perbuatan dari orang lain, termasuk mertua, maka insya Allah tak akan hilang begitu saja. Nah, selamat berbuat baik kepada mertua, semoga Anda bisa menginspirasi para menantu lain..! Teiring do’a dari saya.
Billahit taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,
Bu Urba

Konsultasi

advertisements

Abu Haidar 2017 - Contact - Privacy Policy